[_] Galeri Seni (Click image for more information)

                                                                                                                                                                                                                              
Home » , , , , » Sejarah Singkat Tari Kedidi dari Daerah Bangka Belitung Plus Video Tarian

Sejarah Singkat Tari Kedidi dari Daerah Bangka Belitung Plus Video Tarian

Written By Tebe Sun on March 22, 2017 | March 22, 2017

Selain mempunyai Tari Campak, daerah Bangka Belitung mempunyai tarian tradisional daerah lagi yaitu Tari Kedidi. Bagaimana sejarah tari, bentuk tarian dan cara mementaskannya? Mari kita simak sama-sama.

Sejarah Seni Tari Kedidi


Tari Kedidi - Bangka Belitung
Pada tanggal 4 – 7 Juli 2007 peneliti Dr. Julianti Parani, Dosen Senior IKJ, meneliti cerita singkat perjalanan tari Kedidi.

Wawancara dengan bapak Kamarulzaman terlaksanakan dalam rangka pengumpulan data revitalisasi kesenian Kedidi bertempat di desa Mendo kecamatan Mendo Barat di pulau Bangka Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, tulisan ini meringkas wawancara dilengkapi dengan kesan sejenak dari observasi tari kedidi itu sendiri dalam turun lapangan ke desa Mendo beserta referensi sekelumit sejarah Bangka sekitar kisah pak Kamarulzaman.

Bapak Kamarulzaman adalah pewaris tari Kedidi, yang lahir tahun 1935 di desa Mendo dari orang tua Mat Ali dan H. Sopiyah. Sebagai orang Bangka bapak Kamarulzaman telah mengalami tiga zaman periodisasi sejarah Indonesia dari zaman penjajahan Belanda kemudian penjajahan Jepang dan akhirnya zaman Kemerdekaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pak Kamarulzaman juga telah terserao dalam proses multikultural Bangka. Kakeknya dari pihak ibu adalah Cong A Tet, seorang kepala parit yang berasal dari Hongkong, sedangkan neneknya orang dari desanya sendiri.

Dimasa mudanya mulai belajar silat dari seorang pendatang dari Hongkong pula bernama Bong A Tet. Pernah berkunjung ke berbagai tempat di Indonesia seperti Aceh sebelum tsunami tahun ’69, Jakarta dengan keluarga yang tinggal di Slipi-Tanah Abang, Kalimantan Selatan, Surabaya dll. Menurut penjelasannya, atas keperluan keluarga. Namun demikian ia tetap seorang Mendo Barat yang arif, penuh perhatian pada perkembangan desanya, sederhana, polos dalam keterangannya, dan tetap konsisten terhadap kepentingan kesenian.

Sebagaimana penduduk Mendo, dimasa mudanya ia pekerja tani,  ada kalanya sebagai nelayan, disamping suka menari kedidi dan pandai pula mengiringi dengan menyanyi dan bermain musik kedidi, mengisi hiburan panen dan berbagai perayaan desa. Kini di masa senja kehidupan di kala kondisi fisik sudah menurun, ia telah dapat membina beberapa generasi muda yang akan dapat meneruskan kesenian kedidi. 

Menurut penjelasannya tari kedidi yang pada dasarnya bersifat pelipur lara mendapat inspirasi dari burung kedidi yang berbulu putih berparuh semacam betet dan berekor lucu kalau digerakkan. Burung kedidi yang banyak hidup di muara sungai dan rawa-rawa, sering ditemui nelayan dan gerakannya lucu, terutama gerakan ekornya ketika loncat dari satu tempat ketempat lain, dari batu ke batu, diatas batang pelepah yang mengapung di atas air. Burung ini yang hidup di alam terbuka, tidak bisa ditangkap untuk dipelihara, telah memberi inspirasi kepada nelayan, menghibur diri bermain-main menirukan gerak-geraknya dalam menyusun tarian, kemudian iringannya pada mulanya diusahakan dari bahan-bahan yang ditemukan di alam sekitarnya, seperti kayu-kayu, batok kelapa dan lain-lain. Apabila perahu sedang melaut kemudian memukul perahu sebagai penghias iramanya.

Tarian ini berkembang menjadi hiburan muda-mudi antara empat atau lima orang kalau lagi bulan purnama tanggal 13, 14, 15 setiap bulan. Sebagai bentuk kesenian tari kedidi ini kemudian menjadi lebih menarik ketika diiringi dengan Gambus. Perkembangan variasi selanjutnya adalah memasukkan unsur silat dan gerak pedang. Menurut berita sering kali dipertandingkan, dengan demikian memicu improvisasi gerak dan komposisi serta kepandaian dalam mengembangkan gaya pribadi. Namun demikian dasar gerak burung kedidi tetap dominan yang dapat memberi nuansa lincah, lembut, genit, maupun gagah kejantanan dengan unsur silatnya.

Bapak Kamarulzaman sebagai generasi tua, gerak tarinya terasa lebih halus, klasik dan stabil dalam gerak kedidinya dibandingkan dengan yang lebih muda. Memang dalam pengembangan ke generasi berikutnya terlihat ada inoasi yang tertuju pada variasi ke gerak pinggul, bahu dan kepala dalam mengembangkan kekuatan gaya pribadi yang dimodifikasi keterpaduannya ke dala gerak dasar tari kedidi.

Menurut penjelasannya ia belajar menari dari paman-paman tetangga sekampung Mendo dengan ikut main menari kedidi juga Ketinjak, baik dalam tari maupun musiknya. Paman-paman tersebut yang semuanya sudah almarhum antara lain adalah Marimin, Haji Ahmat, Haji Nawi. Menurut cerita paman-pamannya, begitu penjelasannya, dulu ada seorang bernama Abu Latief yang pertama menciptakan tari kedidi melalui bermain-main dipantai dan mendapat inspirasi dari gerak indah dan lucu dari burung kedidi dan terus dicoba-coba perkembangan gerak tarinya. Abu Latief yang masih jejaka ini, juga yang telah menciptakan iringan musik dari bahan alami yang ditemuinya dan ketukan gendang ketika memukul-mukul dinding perahu. Ia sendiri tidak pernah mengenal Abu Latief, tapi diperkirakan hidup di masa kesultanan Palembang berkuasa atas Pulau Bangka.

Bapak Kamarulzaman mengingat zaman Jepang dimana dia mengikuti sekolah dasar Jepang kelas satu, tetapi karena tidak tahan pelajaran latihan perang maka ia melarikan diri. Sedangkan pada awal-awal kemerdekaan ia mengingat dimana serdadu sekutu atau NICA datang lewat didesanya untuk memeriksa adanya anggota TKR dan banyak membunuh orang-orang desa karena keluarga dari anggota TKR itu.

Keunikan dari bapak Kamarulzaman sebagai tokoh budaya melestarikan tari kedidi tersebut bukan karena jasa agresif pemberontakan, ambisius dalam karier politik atau menjadi kaya melalui usaha bisnis. Dia seorang rakyat biasa, yang dekat dengan lingkungan alamnya, yang menjamin kelestarian kesenian, walaupun hanya sebagai pelipur lara, namun dapat bermanfaat bagi desa dan masyarakatnya dan dapat diwariskan sebagai kesenian daerah.

Hal ini menjadi modal dalam memperkuat identitas budaya Bangka dan sumber daya juga dalam pembangunan pulau Bangka. Menurut beritanya tari kedidi juga terdapat diberbagai desa lain dipulau Bangka. Hal ini menjadi bukti akan potensi masyarakat desa di Bangka yang peka berkesenian melalui inspirasi dari alam lingkungannya sendiri sejak dulu kala. Kreativitas bisa berawal dari orang sederhana di desa, dan inovasi tidak senantiasa harus muncul dari kemajuan dari lingkungan urbanisasi. Sayangnya apa yang berkembang dilingkungan non-urban biasanya masih tertutup atau ditutup-tutupi dan belum mau dikenal secara umum.

Sebagaimana pendapat pak Kamarulzaman sendiri bahwa sekarang masanya sudah terbuka, jadi kesempatan untuk maju dan kreatif dalam berkesenian hanya tinggal kemauan untuk tingkatkan kualitas dan mengembangkan serta mempromosikan apresiasi. Untuk ini perlu program pemerintah, dukungan dan pengertian seniman serta partisipasi masyarakat secara menyeluruh baik yang di desa maupun di kota.

Demo video Tari Kedidi.


Sumber: http://tarikedidi.blogspot.co.id/ Penulis: Moh. Agus Yaman

Demikian saya sampaikan tentang Sejarah Singkat Tari Kedidi dari Daerah Bangka Belitung. Semoga bermanfaat. (tebesunarya.com).*

2 comments:

Syahran Syah said...

Semoga saja kita semua bisa menjaga kebudayaan yang melimpah di negeri ini..ya kan Kang..hhee

Tebe Sun said...

Syahran@ Iya Bang Syahran, perlu kita jaga agar tetap lestari.

loading...